Tarshadigital.com – Poros Rotasi Bumi Bergeser 80 Cm, Ulah Manusia Jadi Penyebab Utama. Poros rotasi bumi mengalami pergeseran signifikan hingga sekitar 80 sentimeter selama periode 17 tahun terakhir, khususnya antara 1993 hingga 2010. Penemuan mengejutkan dari studi ilmiah ini menunjukkan bahwa aktivitas manusia, terutama ekstraksi air tanah berlebihan untuk irigasi pertanian dan kebutuhan industri, menjadi pemicu utama fenomena ini. Saat air tanah dipompa dari akuifer bawah tanah, massa air tersebut berpindah dari daratan ke lautan, mengubah distribusi total massa planet dan memengaruhi keseimbangan rotasi Bumi.
Fenomena ini dikenal sebagai polar motion, di mana sumbu rotasi Bumi bergerak relatif terhadap permukaan planet. Para peneliti dari National University dan tim internasional menghitung bahwa volume air tanah yang dipindahkan mencapai 2.150 gigaton, setara dengan perpindahan massa raksasa di garis lintang tengah yang memiringkan poros ke arah timur. Wilayah seperti India Barat Laut, dengan intensitas pengambilan air tinggi untuk pertanian, berkontribusi paling besar terhadap perubahan ini.
Mekanisme Perpindahan Massa dan Pengaruh Gravitasi
Secara fisika, Bumi berputar seperti gasing raksasa di sekitar porosnya. Ketika massa berpindah—seperti air tanah mengalir ke samudra—pusat massa planet bergeser, memaksa sumbu rotasi menyesuaikan diri untuk menjaga momentum sudut. Studi menggunakan data satelit GRACE (Gravity Recovery and Climate Experiment) membuktikan bahwa tanpa faktor air tanah, pergeseran poros hanya 78,5 cm ke barat, tapi realitasnya bergerak ke arah Islandia-Greenland akibat redistribusi ini.
Peneliti Ki-Weon Seo menekankan, “Di antara faktor iklim, redistribusi air tanah punya dampak terbesar terhadap pergeseran kutub rotasi Bumi”. Saat air tanah diekstrak, permukaan laut naik sekitar 6 mm lebih dari prediksi, tapi hanya 10% yang sesuai model awal, sisanya memengaruhi rotasi secara unik. Proses ini dipercepat sejak pertengahan 1990-an, saat laju pergeseran meningkat dramatis.
Faktor Alami vs Pengaruh Antropogenik
Poros rotasi bumi memang bergerak secara alami karena perubahan musiman, pencairan es kutub Greenland (7.500 gigaton es cair), rebound glasial (pengangkatan tanah pasca Zaman Es), dan konveksi mantel (aliran batuan cair di lapisan dalam). Mencairnya es Greenland saja sumbang 33% pergeseran, tapi air tanah manusia jadi faktor kedua terbesar setelah konveksi mantel.
Bedanya, faktor alami bersifat periodik atau lambat, sementara eksploitasi air tanah menambah kecepatan perubahan tak terduga. Tanpa intervensi manusia, kutub bergerak 4,4 cm per tahun seperti laju benua, tapi kini arah dan kecepatannya berubah ekstrem. Ini bukti aktivitas kita punya kekuatan geologis, mirip gaya alam tapi lebih cepat.
Dampak Jangka Pendek dan Panjang bagi Planet
Pergeseran 80 cm ini tak ubah hari secara dramatis—panjang hari tetap 24 jam, tak ada gempa instan atau cuaca ekstrem langsung. Namun, secara kumulatif, bisa pengaruhi laju rotasi Bumi jangka panjang, gravitasi lokal, dan pola cuaca halus. Lebih krusial, ini peringatan krisis air tanah global: akuifer seperti di India dan AS menipis, tingkatkan risiko kekeringan dan ketergantungan impor pangan.
Studi ini dorong pengelolaan berkelanjutan: batasi pompa air tanah, tingkatkan irigasi efisien, dan restorasi akuifer. Jika dibiarkan, pergeseran bisa percepat kenaikan muka laut dan destabilisasi rotasi lebih lanjut. Ilmuwan seperti Surendra Adhikari dari NASA sebut ini “redistribusi massa terbesar oleh manusia”.
Peringatan untuk Masa Depan dan Solusi Berkelanjutan
Penemuan ini konfirmasi manusia ubah dinamika planet secara fisik, selain pemanasan global. Diperlukan model prediksi rotasi baru untuk navigasi satelit GPS, yang sensitif terhadap perubahan ini. Pemerintah dan petani harus prioritaskan air hujan, desalinasi, dan teknologi irigasi tetes untuk kurangi ekstraksi.
Secara keseluruhan, studi jadi panggilan darurat: kelola air tanah bijak agar poros rotasi bumi stabil, jaga keseimbangan planet untuk generasi mendatang.













