Tarshadigital.com (Washington) – Memasuki awal tahun 2026, dunia astronomi digemparkan oleh temuan terbaru Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Para ilmuwan berhasil mengonfirmasi keberadaan JADES-ID1, sebuah protocluster atau gugus galaksi purba yang terbentuk hanya satu miliar tahun setelah Big Bang. Penemuan ini memaksa para ahli untuk menulis ulang buku teks mengenai sejarah pembentukan struktur alam semesta.
Objek raksasa ini terdeteksi berada pada jarak 12,7 miliar tahun cahaya dari Bumi. Keberadaan struktur sebesar JADES-ID1 di masa awal kosmos menjadi bukti kuat bahwa alam semesta tumbuh dan berkembang jauh lebih agresif serta lebih cepat dari yang diprediksi oleh model kosmologi standar sebelumnya.
Massa Raksasa di Awal Waktu
JADES-ID1 bukan sekadar kumpulan galaksi biasa. Protocluster ini memiliki massa fantastis, yakni sekitar 20 triliun kali massa Matahari. Dalam pengamatan yang dipublikasikan di jurnal Nature pada akhir Januari 2026, struktur ini diidentifikasi sebagai tahap awal pembentukan gugus galaksi masif.
Penemuan ini menjadi istimewa karena menurut teori yang selama ini dipegang, struktur dengan kepadatan dan massa seperti itu diperkirakan baru muncul dua hingga tiga miliar tahun setelah ledakan besar. Namun, JADES-ID1 membuktikan bahwa hanya dalam waktu satu miliar tahun, gravitasi telah mampu menyatukan puluhan galaksi menjadi satu kesatuan yang terikat kuat.
Kolaborasi Strategis James Webb dan Chandra
Keberhasilan mengonfirmasi JADES-ID1 merupakan buah dari kolaborasi dua teleskop paling canggih milik umat manusia: James Webb Space Telescope (JWST) dan Chandra X-ray Observatory.
Teleskop James Webb melalui program JWST Advanced Deep Extragalactic Survey (JADES) berhasil mengidentifikasi setidaknya 66 galaksi kandidat yang berkerumun di wilayah tersebut. Sementara itu, Chandra memberikan bukti pamungkas dengan mendeteksi awan gas panas jutaan derajat yang memancarkan sinar-X di sekitar galaksi-galaksi tersebut.
Keberadaan gas panas ini adalah “smoking gun” atau bukti tak terbantahkan bahwa kumpulan galaksi tersebut telah mulai menyatu di bawah pengaruh gravitasi yang sangat besar, sebuah proses yang dalam istilah astronomi disebut virialisasi.
Alam Semesta yang Terburu-buru
Akos Bogdan dari Center for Astrophysics | Harvard & Smithsonian, yang memimpin riset ini, menyatakan bahwa JADES-ID1 memberikan bukti nyata bahwa alam semesta berada dalam “ketergesaan” untuk tumbuh. “Ini mungkin protocluster terjauh yang pernah dikonfirmasi secara resmi hingga tahun 2026 ini,” ujarnya.
Senada dengan Bogdan, peneliti dari University of Manchester, Qiong Li, menyebutkan bahwa temuan ini melengkapi rangkaian kejutan dari James Webb. Sebelumnya, ilmuwan telah menemukan galaksi dan lubang hitam yang terlalu besar untuk usianya. Kini, terbukti bahwa gugus galaksi pun mampu tumbuh secara prematur dalam skala kosmik.
Implikasi bagi Ilmu Pengetahuan
Dengan ditemukannya JADES-ID1, para astronom kini dihadapkan pada tantangan baru untuk menjelaskan mekanisme fisik yang memungkinkan materi gelap dan gas berkumpul begitu cepat di masa awal. Temuan ini membuka babak baru dalam penelitian energi gelap dan materi gelap, yang merupakan komponen misterius penyusun sebagian besar alam semesta.
Para ilmuwan memprediksi bahwa dalam miliaran tahun evolusinya, JADES-ID1 akan terus berkembang menjadi gugus galaksi masif yang serupa dengan Gugus Coma atau Gugus Virgo yang lokasinya lebih dekat dengan galaksi Bima Sakti saat ini.










