Sunday, February 22, 2026
Tarshadigital
  • Beranda
  • Antariksa
  • Sejarah & Purbakala
  • Teknologi
  • Kesehatan
  • Otomotif
  • Indeks
No Result
View All Result
Tarshadigital
  • Beranda
  • Antariksa
  • Sejarah & Purbakala
  • Teknologi
  • Kesehatan
  • Otomotif
  • Indeks
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Tarshadigital
Home Teknologi

Mengapa NASA Tetap Gunakan Hidrogen di Misi Artemis 2026 Meski Sering Bocor?

Analisis teknis dan politik di balik kesetiaan NASA menggunakan hidrogen cair pada roket SLS untuk misi Artemis II tahun 2026 meski kerap memicu penundaan.

in Teknologi, Antariksa
Bahan Bakar Hidrogen

Analisis teknis dan politik di balik kesetiaan NASA menggunakan hidrogen cair pada roket SLS untuk misi Artemis II tahun 2026

Tarshadigital.com (Floroda)  – Tepat hari ini, Kamis, 19 Februari 2026, perhatian dunia kembali tertuju pada Pad 39B di Kennedy Space Center. Para insinyur NASA sedang melakukan upaya kedua uji coba pengisian bahan bakar (wet dress rehearsal) untuk roket Space Launch System (SLS) yang akan membawa misi Artemis II. Langkah ini terpaksa dilakukan setelah uji coba awal Februari lalu gagal total akibat masalah klasik yang terus menghantui badan antariksa tersebut: kebocoran hidrogen cair.

Jika semuanya berjalan mulus, minggu ini seharusnya menjadi perayaan kembalinya empat astronaut dari orbit Bulan. Namun, realitanya Reid Wiseman dan kru lainnya masih tertahan di Bumi, dengan jadwal peluncuran yang kini tergeser ke Maret 2026. Mengapa NASA seolah “keras kepala” tetap menggunakan hidrogen meski reputasinya buruk karena sering memicu pembatalan misi?

Efisiensi Tanpa Tanding di Ruang Hampa

Alasan utama kesetiaan NASA terletak pada hukum fisika. Hidrogen cair (LH2) adalah elemen paling ringan di alam semesta, namun memiliki kepadatan energi yang luar biasa saat dipasangkan dengan oksigen cair. Dalam dunia roket, terdapat ukuran yang disebut Specific Impulse (Isp), semacam indikator efisiensi bahan bakar.

BacaJuga

NASA Temukan JADES-ID1 Protocluster Tertua Bukti Alam Semesta Tumbuh Cepat

Teleskop James Webb Abadikan Galaksi Ubur-ubur dari Masa Remaja Alam Semesta

Hidrogen memiliki nilai Isp tertinggi dibandingkan opsi bahan bakar kimia lainnya. Artinya, hidrogen mampu memberikan “dorongan” atau gaya angkat yang jauh lebih besar per kilogram bahan bakar dibandingkan bahan bakar tradisional seperti minyak tanah (kerosene) atau bahkan metana yang digunakan SpaceX. Bagi roket raksasa seperti SLS yang harus membawa kapsul Orion seberat 26 ton menuju Bulan, efisiensi ini sangat krusial untuk menjaga bobot roket tetap masuk akal saat lepas landas.

Molekul Terkecil yang Sulit Dijinakkan

Namun, keunggulan fisik hidrogen adalah juga kelemahannya. Sebagai molekul terkecil, hidrogen cair adalah “ahli meloloskan diri”. Ia mampu merembes keluar melalui celah mikroskopis pada sambungan pipa atau segel yang tidak akan bisa dilewati oleh bahan bakar lain.

Kondisi ini diperparah oleh suhu penyimpanannya yang ekstrem, yakni minus 252 derajat Celsius (minus 423 derajat Fahrenheit). Pada suhu sedingin itu, logam pada roket menyusut dan menjadi rapuh. Perubahan bentuk material inilah yang seringkali merusak kerapatan sambungan (umibilical) antara menara peluncuran dan roket, memicu kebocoran yang dideteksi oleh sensor sensitif NASA, seperti yang terjadi pada awal Februari 2026 lalu.

Warisan Politik dan Mandat Kongres

Selain faktor teknis, ada aspek kebijakan yang jarang dibahas. Pembangunan roket SLS diatur oleh undang-undang di Amerika Serikat yang mewajibkan NASA menggunakan kembali perangkat keras dan infrastruktur dari era Space Shuttle (1981-2011). Mesin RS-25 yang menjadi jantung SLS adalah mesin yang sama yang digunakan pada pesawat ulang-alik, yang memang dirancang khusus untuk membakar hidrogen.

Mengganti bahan bakar berarti harus merancang ulang mesin dari nol, sebuah proses yang akan memakan waktu dekade dan biaya miliaran dolar tambahan. Dengan demikian, NASA terjebak dalam dilema antara efisiensi teknis yang tinggi dan ketergantungan pada teknologi warisan yang “rewel”.

Rekor Keamanan yang Teruji

Meskipun sering menyebabkan penundaan yang membuat publik frustrasi, NASA menekankan bahwa protokol keamanan mereka bekerja dengan baik. Sensor kebocoran yang sangat sensitif justru menjadi bukti bahwa sistem pengawasan mereka mampu mencegah bencana sebelum roket meninggalkan landasan.

Hingga saat ini, para insinyur terus melakukan modifikasi pada material segel dan prosedur pengisian bahan bakar yang lebih lambat agar material memiliki waktu untuk beradaptasi dengan suhu dingin ekstrem. Bagi NASA, hidrogen cair mungkin adalah mitra yang sulit diatur, namun tetap menjadi tiket terbaik bagi manusia untuk kembali menjejakkan kaki di permukaan Bulan dalam misi-misi Artemis mendatang.

Tags: Artemis IIBahan Bakar RoketHidrogen CairKebocoran Bahan BakarNASASLSTeknologi Luar Angkasa 2026
Previous Post

NASA Temukan JADES-ID1 Protocluster Tertua Bukti Alam Semesta Tumbuh Cepat

Next Post

DNA Kuno Ungkap Misteri Makam 5.500 Tahun di Swedia: Hubungan Keluarga Ternyata Lebih Luas

Related Posts

Ilustrasi
Antariksa

NASA Temukan JADES-ID1 Protocluster Tertua Bukti Alam Semesta Tumbuh Cepat

20/02/2026
Ubur-ubur Kosmik
Antariksa

Teleskop James Webb Abadikan Galaksi Ubur-ubur dari Masa Remaja Alam Semesta

20/02/2026
solar power satellite
Teknologi

Inggris Uji Coba Transmisi Listrik Tenaga Surya Luar Angkasa ke Ladang Angin Lepas Pantai

19/02/2026
Next Post
DNA Kuno Ungkap Misteri Makam 5.500 Tahun di Swedia

DNA Kuno Ungkap Misteri Makam 5.500 Tahun di Swedia: Hubungan Keluarga Ternyata Lebih Luas

DNA Kuno Ungkap Misteri Makam 5.500 Tahun di Swedia
Sejarah & Purbakala

DNA Kuno Ungkap Misteri Makam 5.500 Tahun di Swedia: Hubungan Keluarga Ternyata Lebih Luas

21/02/2026

Tarshadigital.com (GOTLAND) – Sebuah misteri besar dari situs pemakaman Zaman Batu yang berusia 5.500 tahun di Swedia akhirnya terpecahkan melalui...

Read more
Bahan Bakar Hidrogen

Mengapa NASA Tetap Gunakan Hidrogen di Misi Artemis 2026 Meski Sering Bocor?

21/02/2026
Ilustrasi

NASA Temukan JADES-ID1 Protocluster Tertua Bukti Alam Semesta Tumbuh Cepat

20/02/2026
Ubur-ubur Kosmik

Teleskop James Webb Abadikan Galaksi Ubur-ubur dari Masa Remaja Alam Semesta

20/02/2026
Obesity increases

Studi Terbaru 2026: Obesitas dan Hipertensi Penyebab Langsung Demensia Vaskular

19/02/2026
Tarshadigital

Menjelajah Pengetahuan, Tanpa Batas!

  • indeks
  • Privacy Policy
  • Tarshadigital

© 2025 tarshadigital.com

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Antariksa
  • Sejarah & Purbakala
  • Teknologi
  • Kesehatan
  • Otomotif
  • Indeks

© 2025 tarshadigital.com