Tarshadigital.com – (London) – Pemerintah Inggris mengambil langkah besar dalam ambisi kemandirian energi hijau pada awal 2026 ini. Sebuah studi terbaru memberikan lampu hijau bagi pengembangan teknologi Space-Based Solar Power (SBSP) atau pembangkit listrik tenaga surya berbasis luar angkasa yang akan diintegrasikan dengan ladang angin lepas pantai.
Laporan yang disusun oleh Frazer-Nash Consultancy dan diterbitkan pada Februari 2026 ini mengonfirmasi bahwa satelit pemanen surya di orbit bumi dapat mengirimkan listrik bersih langsung ke jaringan nasional (National Grid). Teknologi ini diproyeksikan mampu menyuplai hingga dua gigawatt (GW) listrik, setara dengan kapasitas reaktor nuklir skala besar.
Studi yang dirilis oleh Departemen Keamanan Energi dan Net Zero (DESNZ) tersebut menyarankan pemasangan antena penerima khusus, yang dikenal sebagai rectenna, di area ladang angin lepas pantai yang sudah ada. Langkah ini dinilai sangat strategis karena memungkinkan sistem SBSP memanfaatkan infrastruktur koneksi jaringan dan kabel transmisi yang telah tersedia di lokasi tersebut.
Mekanisme Listrik dari Orbit ke Bumi
Konsep SBSP bekerja dengan menangkap energi matahari menggunakan satelit raksasa di orbit geostasioner. Karena berada di luar atmosfer bumi, satelit ini tidak terhambat oleh awan, cuaca, atau siklus malam hari. Energi yang terkumpul kemudian diubah menjadi gelombang mikro dan dipancarkan ke bumi menuju rectenna di permukaan laut.
Keunggulan utama teknologi ini adalah intensitas energinya. Pembangkit listrik di orbit mampu menghasilkan energi hingga 13 kali lebih besar dibandingkan instalasi panel surya dengan ukuran yang sama di daratan bumi. Selain itu, SBSP menawarkan solusi atas masalah intermitensi (ketidakpastian) yang selama ini menghantui energi angin dan surya konvensional.
Solusi Energi Bersih 24 Jam
Berbeda dengan panel surya darat yang hanya berfungsi saat siang hari, sistem SBSP mampu beroperasi hampir terus-menerus selama 24 jam penuh dalam segala kondisi cuaca. Hal ini menjadikannya sebagai beban dasar (baseload) energi bersih yang sangat andal untuk mendukung target Net Zero Inggris.
Meskipun biaya awal pembangunan infrastruktur luar angkasa ini masih tergolong tinggi, laporan tersebut mencatat adanya penurunan signifikan dalam biaya peluncuran roket selama satu dekade terakhir. Penggunaan roket yang dapat digunakan kembali (reusable rockets) dan persaingan komersial yang ketat di tahun 2026 telah membuka jalan bagi kelayakan ekonomi proyek ini.
Target Operasional dan Tantangan Ekonomi
DESNZ menyimpulkan bahwa dengan investasi awal yang tepat, SBSP dapat mencapai harga listrik yang kompetitif di pasar pada tahun 2040, dengan kisaran harga antara 118 hingga 175 Dolar AS per MWh.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa de-risking atau pengurangan risiko teknis melalui proyek percontohan skala kecil sangat diperlukan untuk menarik minat investor swasta. Selain teknis, pengkajian mendalam mengenai dampak visual dan lingkungan dari pemasangan rectenna raksasa di lepas pantai juga menjadi prioritas sebelum implementasi skala penuh dilakukan.
Dukungan dari sektor publik dan swasta di tahun 2026 ini diharapkan menjadi katalisator bagi Inggris untuk memimpin perlombaan teknologi energi luar angkasa global, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di masa depan.













