Tarshadigital.com (DEPOK) — Dunia teknologi Indonesia kembali mencatatkan prestasi gemilang di awal tahun 2026. Sekelompok mahasiswa UI (Universitas Indonesia) yang tergabung dalam Tim Labmino berhasil menciptakan RunSight, sebuah inovasi kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dirancang khusus untuk membantu penyandang disabilitas visual atau tunanetra agar dapat berlari secara mandiri dan aman.
Inovasi ini tidak hanya menjadi terobosan di bidang teknologi wearable, tetapi juga berhasil membawa nama Indonesia ke panggung internasional dengan meraih predikat Global Ambassador dalam ajang Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026. Tim Labmino terpilih sebagai satu dari sepuluh tim terbaik di tingkat global, bersaing dengan inovator muda dari berbagai belahan dunia.
Teknologi Navigasi Real-Time Berbasis AI
RunSight bekerja layaknya pemandu lari virtual (virtual guide runner). Perangkat ini dilengkapi dengan kamera RGB dan sensor canggih yang mampu memindai kondisi lingkungan sekitar dalam hitungan milidetik. Data visual yang ditangkap kemudian diproses oleh algoritma AI untuk mendeteksi garis lintasan lari serta mengidentifikasi rintangan yang ada di depan pengguna.
Setelah sistem melakukan analisis, RunSight akan memberikan instruksi suara atau panduan audio secara real-time kepada pelari. Melalui panduan tersebut, penyandang tunanetra dapat mengetahui kapan harus berbelok, tetap berada di lintasan, hingga menghindari potensi tabrakan dengan objek atau orang lain di area lari.
Lahir dari Empati dan Kebutuhan Nyata
Pengembangan RunSight digawangi oleh empat mahasiswa berbakat, yakni Muhammad Fazil Tirtana, Kaindra Rizq Sachio, Anthony Edbert Feriyanto, dan Ariq Maulana Malik Ibrahim, di bawah bimbingan dosen Vektor Dewanto, ST, MEng, PhD. Ide ini muncul dari keprihatinan mereka terhadap keterbatasan ruang gerak bagi atlet atau hobiis lari penyandang disabilitas visual.
Selama ini, pelari tunanetra sangat bergantung pada guide runner manusia atau alat bantu konvensional yang sering kali tidak efektif untuk kecepatan lari. Dengan RunSight, hambatan psikologis seperti rasa takut keluar lintasan atau menabrak benda dapat diminimalisasi, sehingga memberikan rasa percaya diri dan kemandirian bagi penggunanya.
Prestasi Global di Tahun 2026
Prestasi sebagai Global Ambassador di ajang Samsung SFT 2026 menunjukkan bahwa inovasi karya anak bangsa mampu menjawab tantangan sosial global melalui teknologi. Keberhasilan ini juga membuka peluang bagi pengembangan lebih lanjut agar RunSight dapat diproduksi secara massal dan digunakan oleh komunitas disabilitas di seluruh dunia.
Tim Labmino menekankan bahwa fokus utama mereka bukan sekadar kecanggihan fitur, melainkan aspek inklusivitas. Perangkat ini dirancang seringan mungkin agar tetap nyaman digunakan saat beraktivitas fisik berat, dengan antarmuka yang sangat ramah pengguna bagi mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan.
Diharapkan, kehadiran RunSight pada tahun 2026 ini menjadi katalisator bagi perkembangan teknologi inklusif lainnya di tanah air, sekaligus membuktikan bahwa mahasiswa Indonesia mampu memimpin di garda terdepan inovasi AI global yang berdampak sosial nyata.













