Tarshadigital.com – Misteri mengenai aktivitas geologi di Planet Merah kembali terkuak. Sebuah gunung berapi di Mars yang selama ini dianggap sebagai hasil dari satu kali letusan besar ternyata menyimpan sejarah masa lalu yang jauh lebih rumit. Data pencitraan orbital dan analisis mineral terbaru yang dirilis pada awal 2026 ini menunjukkan gunung tersebut terbentuk melalui berbagai fase erupsi yang didorong sistem magma bawah tanah yang terus berevolusi.
Erupsi vulkanik yang terlihat seperti peristiwa tunggal di permukaan sering kali merupakan hasil akhir dari aktivitas lambat dan kompleks di kedalaman planet. Di bawah permukaan Mars, magma berpindah posisi, mengalami perubahan kimia, dan mengendap dalam waktu lama sebelum akhirnya meletus ke permukaan.
Studi Mendalam di Kawasan Pavonis Mons
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Geology ini menunjukkan kompleksitas tersebut nyata terjadi di Mars. Menggunakan gambar lanskap resolusi tinggi dan pengukuran mineral dari orbit paling mutakhir tahun 2026, tim peneliti internasional berhasil merekonstruksi sejarah wilayah vulkanik termuda di Planet Merah tersebut.
Fokus penelitian ini adalah sistem vulkanik berumur panjang yang terletak di selatan Pavonis Mons, salah satu gunung berapi terbesar di Mars. Tim yang terdiri dari peneliti dari Adam Mickiewicz University, University of Iowa, dan Lancaster Environment Centre menemukan sistem magma di sana tetap aktif dan berubah secara signifikan dalam jangka waktu lama.
“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa bahkan selama periode vulkanik terbaru di Mars, sistem magma di bawah permukaan tetap aktif dan kompleks,” kata Bartosz Pieterek dari Adam Mickiewicz University dalam keterangan resminya.
Menurutnya, gunung berapi tersebut tidak meletus hanya sekali, melainkan berevolusi seiring waktu sejalan dengan perubahan kondisi termal dan kimiawi di bawah permukaan planet.
Jejak Mineral yang Berevolusi
Analisis tersebut mengungkap bahwa sistem vulkanik ini berkembang melalui beberapa tahapan yang berbeda secara struktural. Aktivitas awal melibatkan aliran lava yang menyebar luas dari celah-celah tanah, sementara erupsi selanjutnya berasal dari lubang ventilasi yang lebih terpusat dan membentuk fitur menyerupai kerucut (cinder cones).
Setiap fase letusan meninggalkan “sidik jari” mineral yang unik. Hal ini memungkinkan para peneliti untuk melacak bagaimana komposisi magma bergeser seiring waktu, yang mencerminkan kedalaman asal magma serta durasi penyimpanannya di bawah permukaan sebelum akhirnya dimuntahkan keluar.
“Perbedaan mineral ini memberi tahu kita bahwa magma itu sendiri sedang berevolusi secara kimiawi selama jutaan tahun,” jelas Pieterek.
Wawasan Penting Mengenai Interior Mars
Karena para ilmuwan belum dapat mengumpulkan sampel batuan secara langsung dari situs vulkanik aktif di Mars hingga misi pengembalian sampel tahun-tahun mendatang, studi berbasis pengamatan orbital resolusi tinggi menjadi sangat berharga. Temuan ini membuktikan interior Mars jauh lebih dinamis daripada yang diyakini para ahli geologi pada dekade sebelumnya.
Data orbital ini memberikan wawasan langka mengenai struktur tersembunyi dan evolusi jangka panjang sistem vulkanik, tidak hanya di Mars, tetapi juga pada benda langit berbatu lainnya di sistem tata surya kita. Penemuan ini diprediksi akan mengubah peta jalan eksplorasi robotik Mars dalam misi-misi pencarian sumber energi geotermal planet di masa depan.













