Tarshadigital.com (WASHINGTON) – Memasuki awal tahun 2026, Lockheed Martin semakin mempercepat pengembangan sistem energi nuklir fission untuk pangkalan luar angkasa di Bulan. Langkah ini menjadi jawaban atas tantangan kritis “ayam dan telur” dalam industri antariksa: apakah harus membangun sumber daya terlebih dahulu atau menunggu permintaan infrastruktur muncul.
Raksasa kedirgantaraan asal Amerika Serikat tersebut kini memfokuskan pengembangan pada Fission Surface Power (FSP). Teknologi ini dipandang sebagai solusi esensial untuk mendukung kehadiran jangka panjang manusia serta aktivitas industri skala besar di permukaan Bulan.
Arsitektur Skalabel untuk Ekonomi Lunar
Lockheed Martin mengusung konsep arsitektur yang fleksibel dan dapat ditingkatkan. Proyek ini dimulai dengan pengembangan sistem kecil berkapasitas 5 hingga 10 kilowatt (kW) untuk mendukung operasi awal dan meminimalkan risiko teknis. Namun, visi jangka panjang perusahaan adalah mengevolusi sistem ini hingga mencapai kapasitas 25-50 kW, dan pada akhirnya menyentuh 100 kW untuk mendukung infrastruktur komersial yang lebih luas.
Kerry Timmons, Business Strategy Lead untuk program nuklir luar angkasa Lockheed Martin, menegaskan bahwa desain ini bukan sekadar memperbesar skala. “Membangun reaktor 100 kW untuk operasi di Bulan dan Mars membutuhkan penguasaan teknologi siklus Brayton suhu tinggi dan manajemen termal yang sangat canggih,” ujarnya dalam keterangan resmi Februari 2026.
Mengatasi Malam Panjang di Bulan
Lingkungan Bulan dikenal sangat ekstrem, terutama dengan durasi malam yang mencapai dua minggu tanpa sinar matahari sama sekali. Di wilayah kutub yang kaya sumber daya, kegelapan abadi menjadi hambatan utama bagi panel surya konvensional. Reaktor nuklir fission menawarkan pasokan listrik kontinu yang tidak bergantung pada cahaya matahari.
Energi ini nantinya akan digunakan untuk memberi daya pada habitat astronot, pengisian daya rover, hingga proses ekstraksi sumber daya lokal (in-situ), seperti produksi oksigen dan bahan bakar roket dari es bulan.
Prioritas Nasional di Bawah Kepemimpinan Baru
Upaya ini telah menjadi prioritas nasional Amerika Serikat guna memastikan kepemimpinan di ruang angkasa. Administrator NASA yang baru menjabat, Jared Isaacman, bersama Menteri Energi Chris Wright, baru saja menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada Januari 2026 untuk mempercepat target peluncuran perdana reaktor ini pada tahun 2030.
Direktur Infrastruktur In-Space Lockheed Martin, Bill Pratt, menyebut bahwa dukungan kebijakan pemerintah saat ini telah memecah kebuntuan investasi. “NASA kini sedang membangun ‘jangkar’ bagi komersialisasi masa depan. Kami tidak lagi menunggu permintaan, kami membangun fondasinya sekarang,” tegas Pratt.
Desain Modular dan Efisiensi Biaya
Untuk menekan biaya, para insinyur merancang arsitektur modular. Unit kompak 5-10 kW dirancang cukup kuat untuk menjaga habitat tetap hangat melalui malam lunar yang membeku, namun cukup ringkas untuk diangkut dengan pendarat komersial. Seiring ekspansi industri seperti penambangan regolith, sistem ini dapat dihubungkan dalam jaringan grid yang lebih besar.
Lockheed Martin kini fokus pada pengembangan material baru yang mampu bertahan dalam suhu operasional ekstrem. Pengujian sistem tenaga orbital 10-25 kW juga direncanakan sebagai ajang pembuktian risiko rendah sebelum sistem benar-benar diturunkan ke permukaan Bulan.
Dengan persaingan geopolitik dari Tiongkok dan Rusia yang juga merencanakan stasiun nuklir lunar otomatis pada 2035, Amerika Serikat memandang penguasaan energi nuklir ruang angkasa sebagai kunci kemenangan dalam perlombaan antariksa modern tahun 2026 ini.













