Tarshadigital.com – Bakteri hidup mumi es Otzi baru-baru ini ditemukan oleh para ilmuwan, mematahkan asumsi lama bahwa mumi purba adalah objek statis yang sepenuhnya mati dan membeku dalam waktu. Selama ini, Otzi si Manusia Es yang berusia 5.300 tahun dianggap sebagai kapsul waktu sempurna dari Zaman Tembaga. Tubuhnya yang terjebak di dalam gletser es selama ribuan tahun memberikan data berharga mengenai pakaian, tato, hingga makanan terakhir manusia purba. Namun, studi mikrobiologi terbaru menunjukkan bahwa tubuh Otzi ternyata merupakan sebuah ekosistem dinamis yang masih bergerak dan menjadi rumah bagi berbagai mikroba.
Penelitian ini mendeteksi adanya aktivitas mikroorganisme yang mengejutkan pada tubuh Otzi. Fenomena ini membuktikan bahwa lingkungan museum yang super dingin sekalipun tidak mampu menghentikan roda kehidupan mikroskopis secara total. Keberadaan bakteri hidup mumi es Otzi menjadi babak baru dalam ilmu konservasi sejarah, mempertemukan mikroba dari masa 3300 Sebelum Masehi dengan organisme modern abad ini.
Siapa yang Meneliti Jaringan Mikroba Ini dan Di Mana Lokasinya?
Riset mendalam mengenai ekosistem mikroba ini digawangi oleh tim ilmuwan internasional yang dipimpin oleh Mohamed Sarhan dari Eurac Research. Penelitian ini juga didukung penuh oleh Frank Maixner, selaku Direktur Institute for Mummy Studies di Eurac Research, serta pakar konservasi Marco Samadelli.
Secara administratif, lokasi penyimpanan mumi es Otzi saat ini berada di dalam ruang kaca khusus di South Tyrol Museum of Archaeology yang terletak di Bolzano, Italia. Di museum ini, tubuh Otzi diletakkan dalam sebuah ruangan yang suhunya diatur agar sangat dingin dan lembap, mereplikasi kondisi gletser Pegunungan Alpen Ötztal, tempat di mana sepasang pendaki gunung pertama kali menemukan jasadnya pada tahun 1991 silam.
Kapan Perubahan Populasi Mikroba Ini Terdeteksi dan Apa Saja Jenisnya?
Proses pemantauan mikrobiologi ini dilakukan secara berkala, di mana tim peneliti membandingkan sampel biologis yang diambil antara tahun 2010 hingga tahun 2019. Melalui pengujian sampel dari kulit, jaringan dalam, air tubuh, hingga udara di dalam ruang penyimpanan, tim ilmuwan menemukan fakta bahwa mikroba pada tubuh Otzi terbagi menjadi tiga kelompok sejarah, yaitu mikroba asli saat Otzi hidup, mikroba yang masuk saat berada di gletser, dan mikroba modern yang menempel setelah proses evakuasi.
Salah satu temuan yang paling mencolok adalah lonjakan populasi ragi ramah dingin bernama *Glaciozyma watsonii*. Jamur ragi yang biasa hidup di lingkungan kutub dan gletser ini menunjukkan pertumbuhan yang masif pada kulit mumi dalam rentang waktu sembilan tahun tersebut. Pemeriksaan DNA membuktikan bahwa ragi ini memiliki struktur genetik yang “segar”, mengindikasikan bahwa mereka tidak sekadar awet membeku, melainkan aktif bereproduksi di atas permukaan kulit mumi.
Mengapa Bakteri di Dalam Usus Otzi Sangat Penting Bagi Manusia Modern?
Berbeda dengan bagian kulit luar yang banyak terkontaminasi mikroba modern, bagian dalam pencernaan Otzi justru menyimpan harta karun ilmiah yang sangat murni. Mengapa bagian ini begitu penting? Jawabannya terletak pada evolusi tubuh manusia akibat modernisasi.
Transformasi Usus Manusia: Usus manusia modern telah berubah drastis akibat konsumsi makanan olahan, gaya hidup perkotaan, dan penggunaan antibiotik. Bakteri usus kuno yang ditemukan dalam kondisi utuh pada pencernaan Otzi memberikan tolok ukur langka mengenai bagaimana bentuk sistem pencernaan manusia sebelum dunia mengenal industri pangan modern.
Melalui analisis kerusakan pola DNA purba, ilmuwan memastikan bahwa bakteri usus ini adalah mikroba asli yang menemani Otzi sepanjang hidupnya 5.000 tahun lalu, bukan bakteri penyusup dari era modern.
Bagaimana Bakteri Modern Bisa Masuk dan Bagaimana Cara Melindungi Otzi?
Bagaimana bisa mikroba modern ikut tumbuh pada tubuh mumi yang dijaga ketat? Studi ini mengungkap sisi dilematis dari proses pengawetan museum. Untuk mencegah tubuh Otzi mengalami dehidrasi atau mengering, pihak museum menyemprotkan air yang telah distrilisasi secara khusus untuk menjaga kelembapan udara. Namun, air steril tersebut ternyata tetap membawa bakteri uniknya sendiri, yang lambat laun berkolonisasi di permukaan tubuh Otzi.
Beberapa bakteri yang terdeteksi bahkan memiliki gen yang mampu mengurai protein, lemak, dan kolagen (zat penyusun jaringan kulit). Meski belum ada bukti konkret bahwa bakteri-bakteri ini merusak kulit Otzi saat ini, potensi risiko tersebut memaksa pihak pengelola museum untuk mendesain ulang sistem proteksi mereka.
Elisabeth Vallazza, Direktur South Tyrol Museum of Archaeology, menegaskan bahwa kondisi pengawetan mumi saat ini masih sangat stabil. Namun, dengan adanya temuan bakteri hidup mumi es Otzi ini, metode perawatan mumi di masa depan harus ditingkatkan. Pengawasan tidak boleh lagi hanya fokus pada suhu dan kelembapan makro, melainkan harus melacak pergerakan mikrobiologis secara real-time demi memastikan warisan sejarah yang sangat berharga ini tetap lestari hingga generasi-generasi mendatang.








