Tarshadigital.com – (TOULOUSE) — Perusahaan kedirgantaraan raksasa asal Prancis, Airbus, secara resmi mengoperasikan infrastruktur komputasi berperforma tinggi melalui kehadiran supercomputer baru Airbus yang tersebar di dua negara sekaligus, yakni Prancis dan Jerman. Langkah revolusioner ini diambil demi mempercepat dan menyempurnakan proses perancangan pesawat generasi masa depan. Mengingat industri penerbangan global kini menuntut efisiensi tinggi dan teknologi ramah lingkungan, Airbus memutuskan untuk melipatgandakan kekuatan komputasi digitalnya hingga tiga kali lipat.
Pengembangan infrastruktur digital mutakhir ini terwujud berkat investasi besar senilai 100 juta Euro (atau setara dengan sekitar Rp1,6 triliun) yang dikucurkan secara bertahap selama lima tahun kepada penyedia komputasi tingkat lanjut asal Prancis, Bull.
Apa dan Mengapa Supercomputer Baru Ini Dibutuhkan?
Supercomputer merupakan sistem komputer yang sangat terspesialisasi untuk memproses data dalam jumlah raksasa serta mengeksekusi kalkulasi rumit dengan kecepatan yang mustahil ditandingi oleh komputer biasa. Sistem ini dirakit dengan menghubungkan ribuan chip prosesor (*CPU*) dan kartu grafis (*GPU*) ke dalam rak-rak khusus yang dilengkapi dengan sistem pendingin internal terintegrasi.
Bagi industri dirgantara seperti Airbus, teknologi ini bukanlah hal baru karena mereka telah memanfaatkannya selama lebih dari dua dekade. Namun, mengapa peningkatan besar-besaran ini dilakukan sekarang? Jawabannya terletak pada kompleksitas perancangan pesawat masa kini.
Dengan memanfatkan arsitektur canggih berbasis rak *BullSequana XH300*, sistem ini mengombinasikan kekuatan *CPU* dan *GPU* dari pabrikan semikonduktor ternama, AMD dan NVIDIA. Untuk sektor penyimpanan data, Airbus memercayakannya pada teknologi *Spectrum Scale* milik IBM, sementara interkoneksi antarkomponen dijembatani oleh *NVIDIA InfiniBand NDR* yang mendukung kecepatan transfer data hingga 400 Gbps per *port*. Kombinasi perangkat keras ini sukses mendongkrak daya komputasi Airbus menjadi tiga kali lipat lebih bertenaga dibandingkan infrastruktur mereka sebelumnya.
Siapa yang Menyediakan dan Kapan Perangkat Ini Mulai Beroperasi?
Infrastruktur masif ini dipasok oleh Bull, sebuah perusahaan teknologi komputasi berperforma tinggi (*High-Performance Computing*/HPC). Berbeda dengan proyek-proyek Airbus sebelumnya yang kerap menggunakan jasa Hewlett-Packard Enterprise (HPE), kali ini Bull memenangkan proses pengadaan berkat penawaran harga dan skema kerja sama yang dinilai lebih kompetitif.
Bull menyediakan perangkat ini melalui model bisnis *’HPC-as-a-Service’*. Lewat skema ini, Airbus tidak perlu membeli perangkat keras secara putus, melainkan menyewa seluruh ekosistem komputasi canggih tersebut selama periode lima tahun dengan total nilai kontrak 100 juta Euro.
Secara kronologis, proses pengiriman perangkat keras ini dilakukan dalam dua tahap. Fasilitas manufaktur Airbus yang berada di Toulouse, Prancis, menerima pengiriman unit pertama pada Desember tahun lalu. Sementara itu, unit kedua berhasil dikirimkan dan dipasang di fasilitas komputasi kota Hamburg, Jerman, pada April tahun ini.
Di Mana Saja Lokasinya dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Meskipun supercomputer konvensional umumnya dipusatkan di satu laboratorium nasional atau satu lokasi tunggal, proyek komputasi canggih ini justru diletakkan secara terpisah di dua negara yang berbeda: Toulouse di Prancis dan Hamburg di Jerman.
Bagaimana cara menyatukan kedua unit terpisah ini? Bruno Lecointe, selaku Kepala Bagian HPC, AI, dan Komputasi Kuantum di Bull, memaparkan bahwa kedua unit yang terpisah jarak geografis tersebut telah dikoneksikan sedemikian rupa agar dapat berfungsi sebagai satu kesatuan supercomputer yang utuh. Beban kerja komputasi tidak dibagi rata secara kaku berdasarkan wilayah, melainkan dijadwalkan secara otomatis untuk berjalan di salah satu unit yang sedang siap. Keputusan pemrosesan ini diatur oleh sistem penjadwal khusus (*batch scheduler*) yang menganalisis ketersediaan sumber daya di masing-masing lokasi secara *real-time* sebelum mendistribusikan tugas komputasi.
Bagaimana Dampaknya Terhadap Industri Dirgantara Masa Depan?
Kehadiran infrastruktur komputasi raksasa ini membuka era baru bagi dunia kedirgantaraan. Airbus tidak hanya memanfaatkannya untuk merancang bentuk fisik (*airframe*) dari jajaran helikopter dan pesawat komersial terbaru mereka, tetapi juga untuk menjalankan simulasi virtual tingkat tinggi secara masif.
Salah satu implementasi utamanya adalah menciptakan *”digital twins”* (kembaran digital) dari purwarupa pesawat. Kembaran digital ini nantinya dapat diuji coba secara ekstensif di dalam lingkungan virtual yang mensimulasikan berbagai kondisi cuaca ekstrem dan tekanan udara tanpa perlu memproduksi fisik pesawatnya terlebih dahulu. Hal ini tentu menghemat waktu uji coba secara signifikan dan memangkas biaya kegagalan produksi.
Selain itu, komputer super ini juga ditugaskan untuk menjalankan perangkat lunak dinamika fluida komputasi (*Computational Fluid Dynamics*/CFD) bernama CODA. Perangkat lunak ini dikembangkan secara kolaboratif oleh Airbus bersama Laboratorium Kedirgantaraan Prancis (ONERA) dan Pusat Kedirgantaraan Jerman (DLR) untuk menganalisis bagaimana aliran udara berinteraksi dengan badan pesawat demi menciptakan desain yang lebih aerodinamis dan hemat bahan bakar.
Menariknya, inovasi ini juga membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar pabrik. Berkat fitur *Direct Liquid Cooling* milik Bull, panas yang dihasilkan oleh ribuan komponen aktif di dalam ruang supercomputer tidak dibuang sia-sia, melainkan dialirkan kembali untuk menghangatkan gedung-gedung perkantoran milik Airbus di lokasi tersebut saat musim dingin tiba.









