Tarshadigital (WASHINGTON) — Para astronom baru saja mengungkap sebuah anomali besar di Galaksi Bima Sakti yang memicu pertanyaan baru tentang bagaimana dunia di luar tata surya kita terbentuk. Berdasarkan penelitian terbaru, misteri planet sub-Neptunus yang hampir mustahil ditemukan di sekitar bintang-bintang kecil yang redup kini menjadi pusat perhatian dunia sains global. Fenomena unik ini mematahkan asumsi lama mengenai distribusi planet di alam semesta.
Selama ini, planet sub-Neptunus—yahu planet yang ukurannya berada di rentang antara Bumi dan Neptunus—merupakan salah satu jenis planet yang paling sering dijumpai di galaksi kita. Namun, aturan tersebut tampaknya tidak berlaku bagi lingkungan bintang kerdil merah (M dwarfs) yang berukuran kecil dan redup.
Apa dan Mengapa Fenomena Ini Menjadi Misteri?
Penelitian yang dipublikasikan secara resmi dalam jurnal ilmiah bergengsi *The Astronomical Journal* ini menjabarkan sebuah teka-teki kosmik. Bagaimana mungkin jenis planet yang begitu dominan di tempat lain, justru “absen” di lingkungan bintang yang paling umum di alam semesta?
Misteri ini terkuak setelah tim ilmuwan internasional melakukan analisis mendalam terhadap data masif yang dikumpulkan selama enam tahun oleh teleskop antariksa milik NASA, *Transiting Exoplanet Survey Satellite* (TESS). Melalui metode transit—yaitu mengamati penurunan intensitas cahaya bintang secara berkala ketika ada sebuah objek yang melintas di depannya—para peneliti mencoba memetakan populasi planet di zona tersebut.
Hasilnya sangat mengejutkan pihak astronom. Dari total 8.134 bintang kerdil merah redup (kategori *mid-to-late M dwarfs*) yang diamati secara intensif, mereka hanya mampu memverifikasi keberadaan lima planet sub-Neptunus . Jumlah yang sangat minim ini mengindikasikan bahwa ada sesuatu yang menahan atau mengubah proses pertumbuhan planet di sekitar bintang-bintang kecil tersebut.
Siapa yang Menemukan dan Bagaimana Analisis Ahli?
Riset penting ini digawangi oleh para astronom terkemuka, salah satunya adalah Eric Gillis, seorang peneliti dan mahasiswa doktoral dari *McMaster University*. Menurut analisis Gillis, kelangkaan ini bukan sekadar kebetulan statistik, melainkan petunjuk kuat adanya hukum alam yang berbeda dalam proses penciptaan sistem planet.
“Di sekitar bintang-bintang kerdil merah ini, planet sub-Neptunus praktis menghilang dari radar pengamatan. Hal tersebut memberikan bukti konkret bahwa mekanisme pembentukan planet di lingkungan sana memang berjalan dengan cara yang sangat berbeda,” jelas Eric Gillis dalam laporan resminya.
Sebagai gantinya, lingkungan bintang kecil ini justru sangat padat oleh keberadaan *super-Earth* atau Bumi Super—yaitu kelompok planet berbatu yang memiliki ukuran sedikit lebih besar daripada planet tempat tinggal kita, namun tidak memiliki lapisan gas tebal.
Kapan dan Dua Teori Utama di Balik Hilangnya Sub-Neptunus
Penelitian intensif ini dirilis dan dipublikasikan pada pertengahan tahun ini setelah melewati proses validasi data bertahun-tahun. Untuk menjelaskan mengapa planet sub-Neptunus begitu langka di sana, para ilmuwan mengajukan dua hipotesis utama yang saat ini sedang diuji:
1. Teori Akresi Kerikil dan Kandungan Air (*Pebble Accretion*)
Teori pertama menyebutkan bahwa planet di sekitar bintang kerdil merah kemungkinan besar terbentuk melalui akumulasi debu angkasa dan es kaya air (akresi kerikil). Proses ini membuat planet padat berkembang dengan cepat dan efisien menjadi planet batuan besar, tanpa sempat menarik atau mengunci lapisan gas hidrogen dan helium yang tebal seperti yang dimiliki oleh planet sub-Neptunus.
2. Teori Penguapan Foto (*Photoevaporation*)
Teori kedua berfokus pada sifat agresif dari bintang merah kecil itu sendiri. Meskipun ukurannya kecil, bintang-bintang kerdil ini dikenal sangat aktif dan kerap memancarkan radiasi sinar-X serta ultraviolet yang sangat kuat di masa mudanya. Radiasi ekstrem inilah yang diduga kuat telah “memanggang” atmosfer planet di dekatnya, memanaskan gas hingga mencapai kecepatan lepas, lalu meniupnya ke luar angkasa. Proses penguapan ini menyisakan inti planet yang telanjang berupa batuan padat (*super-Earth*).
Di Mana Dampaknya Terhadap Pencarian Kehidupan Luar Bumi?
Penemuan ini membawa dampak yang sangat signifikan terhadap peta jalan (roadmap) astrobiologi dalam mencari tanda-tanda kehidupan di luar tata surya kita. Fokus pengamatan para pemburu eksoplanet kini bergeser secara masif ke arah sistem bintang kecil yang memiliki sistem planet kompak berukuran kecil.
Meskipun sistem bintang kerdil merah ini tidak ramah bagi keberadaan planet gas raksasa seperti Jupiter, melimpahnya planet berbatu seukuran Bumi memberikan harapan baru yang sangat besar. Para ilmuwan kini dapat mengarahkan teleskop canggih seperti *James Webb Space Telescope* (JWST) secara lebih spesifik ke zona layak huni (*habitable zone*) di sekitar bintang kecil ini, karena peluang menemukan planet padat berair menjadi jauh lebih tinggi.
Hingga saat ini, proses pengamatan lanjutan masih terus berjalan di berbagai observasi darat dan luar angkasa untuk memvalidasi massa serta komposisi atmosfer dari planet-planet yang tersisa, demi memastikan apakah dunia baru tersebut benar-benar dapat dihuni oleh manusia di masa depan.
Sumber : micom











