Tarshadigital.com – Dunia astronomi di awal tahun 2026 kembali dikejutkan dengan terkuaknya misteri salah satu fenomena langit paling aneh dalam satu dekade terakhir. Sebuah bintang bernama ASASSN-24fw yang terletak di konstelasi Monoceros dilaporkan mengalami peredupan ekstrem, di mana cahayanya sempat hilang hingga 97 persen selama lebih dari sembilan bulan.
Fenomena yang berlangsung sejak akhir 2024 hingga Juni 2025 ini sempat membuat para ilmuwan bingung. Namun, penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Monthly Notices of the Royal Astronomical Society pada Februari 2026 akhirnya memberikan jawaban ilmiah di balik perilaku bintang raksasa tersebut.
Objek Raksasa dengan Cincin Masif
Para peneliti mengungkapkan bahwa penyebab redupnya ASASSN-24fw bukanlah karena aktivitas internal bintang, melainkan adanya penghalang eksternal yang sangat besar. Berdasarkan pemodelan kurva cahaya, objek yang melintas di depan bintang tersebut diyakini sebagai sebuah katai cokelat (brown dwarf) atau planet super-Jupiter yang memiliki sistem cincin masif.
Sistem cincin ini memiliki skala yang jauh melampaui cincin Saturnus di tata surya kita. Radius cincin tersebut diperkirakan mencapai 0,17 Satuan Astronomi (AU) atau sekitar 26 juta kilometer—setara dengan setengah jarak antara Matahari dan Merkurius. Kemiringan bidang orbit dan kerapatan cincin inilah yang menciptakan bayangan elips raksasa, sehingga menutupi cahaya bintang dalam durasi yang sangat lama.
Anomali Usia dan Sisa Tabrakan Planet
Selain mengungkap penyebab peredupan, tim peneliti internasional yang dipimpin oleh Sarang Shah dari IUCAA menemukan fakta mengejutkan lainnya. ASASSN-24fw merupakan bintang tipe F yang stabil, namun memiliki lingkungan sirkumstellar yang kaya akan debu dan gas di dekatnya.
Kondisi ini sangat tidak biasa bagi bintang yang diperkirakan berusia sekitar dua miliar tahun. Keberadaan debu tersebut diduga berasal dari sisa-sisa tabrakan antarplanet yang terjadi baru-baru ini. Penemuan ini menantang teori evolusi bintang yang selama ini diyakini, bahwa piringan debu sirkumstellar seharusnya sudah menghilang jauh sebelum bintang mencapai usia miliaran tahun.
Temuan Tak Terduga: Bintang Katai Merah
Selama proses pengamatan intensif menggunakan data fotometri dan spektroskopi, para astronom juga secara tidak sengaja menemukan keberadaan bintang katai merah (red dwarf) di lingkungan sekitar ASASSN-24fw. Hal ini menambah kompleksitas sistem bintang tersebut dan memberikan peluang baru bagi para peneliti untuk mempelajari dinamika sistem multi-bintang.
Dengan bantuan teknologi dari James Webb Space Telescope (JWST) dan Very Large Telescope (VLT) milik ESO, para ilmuwan kini tengah berfokus untuk mengukur suhu, komposisi kimia, dan status evolusi sistem ini secara lebih rinci. Prediksi terbaru menyebutkan bahwa fenomena peredupan serupa kemungkinan besar akan kembali terjadi dalam kurun waktu 42 hingga 43 tahun ke depan saat objek bercincin tersebut kembali melintasi orbitnya.
Penelitian terhadap ASASSN-24fw ini membuka lembaran baru dalam memahami bagaimana sistem planet dan cakram debu dapat bertahan atau terbentuk kembali pada bintang-bintang yang sudah dewasa, memberikan perspektif segar bagi masa depan astronomi di tahun 2026 dan seterusnya.













