Tarshadigital.com (BEIJING) – Memasuki bulan kedua di tahun 2026, dunia teknologi kembali dikejutkan dengan lompatan besar dalam perlombaan komputasi kuantum global. Ilmuwan dari Institute of Physics di Chinese Academy of Sciences (CAS) dilaporkan telah berhasil mengamati dan mengendalikan fenomena yang disebut pretermalisasi pada prosesor kuantum superkonduktor 78-qubit terbaru mereka, Chuang-tzu 2.0.
Terobosan ini menjadi kunci penting bagi masa depan industri teknologi 2026 karena mampu menjawab tantangan terbesar dalam dunia kuantum: hilangnya informasi akibat kekacauan sistem atau dekoherensi. Riset yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada akhir Januari 2026 ini memberikan harapan baru untuk merancang sistem koreksi kuantum yang jauh lebih stabil dan efisien.
Menjinakkan Kekacauan dengan Pretermalisasi
Dalam sistem kuantum, informasi sangat rentan terhadap gangguan luar. Layaknya sebuah pendulum yang jika disentuh akan kembali ke titik setimbang, sistem kuantum yang terganggu cenderung menyebarkan energinya secara merata hingga mencapai titik jenuh (termalisasi). Pada fase termalisasi ini, informasi kuantum biasanya lenyap sepenuhnya.
Namun, dengan menggunakan prosesor Chuang-tzu 2.0, para peneliti Tiongkok berhasil menemukan “jeda” kritis sebelum kekacauan tersebut terjadi. Fenomena ini disebut pretermalisasi. Analogi sederhananya adalah seperti es yang sedang dipanaskan: suhunya akan tetap stabil di 0 derajat Celcius selama beberapa waktu sebelum akhirnya mencair seluruhnya menjadi air.
Pada fase plateau atau dataran stabil inilah, sistem kuantum melawan kekacauan dan mempertahankan informasi yang tersimpan di dalamnya. Penemuan ini membuka jendela waktu krusial bagi komputer kuantum untuk menyelesaikan kalkulasi sebelum datanya menguap.
Chuang-tzu 2.0: Terowongan Angin Dunia Kuantum
Fan Heng, profesor di Institute of Physics yang terlibat dalam riset ini, menyamakan fungsi Chuang-tzu 2.0 bagi pengembangan komputer kuantum dengan fungsi terowongan angin bagi pengembangan jet tempur.
Bagi sistem kuantum dengan hampir 100 bit, ruang statusnya sangat luas, sehingga simulasi penuh dengan komputer klasik saat ini sudah tidak praktis lagi, jelas Fan Heng dalam keterangan resminya pada Februari 2026. Sebagai sistem kuantum alami, prosesor kuantum dapat berevolusi secara langsung dan mengungkapkan hukum dinamika kompleks tersebut.
Yang lebih mengesankan, tim peneliti tidak hanya mengamati, tetapi juga mampu mengendalikan durasi pretermalisasi tersebut. Dengan menggunakan metode Random Multipolar Driving, para ilmuwan dapat menyesuaikan ritme dan pola urutan kontrol untuk memperpanjang atau memperpendek masa stabil informasi kuantum sesuai kebutuhan.
Implikasi Strategis bagi Teknologi Masa Depan
Keberhasilan mengontrol pretermalisasi di tahun 2026 ini diprediksi akan mempercepat komersialisasi komputer kuantum. Beberapa dampak utama dari riset ini meliputi:
1. Peningkatan Masa Hidup Qubit: Dengan memperlambat laju dekoherensi, informasi dapat bertahan lebih lama untuk diproses.
2. Koreksi Kesalahan yang Lebih Baik: Membantu ilmuwan merancang skema koreksi kesalahan kuantum yang lebih akurat sebelum sistem mencapai titik kacau.
3. Keunggulan Kuantum Praktis: Memungkinkan penyelesaian masalah kompleks yang tidak bisa ditangani oleh superkomputer klasik tercepat sekalipun di tahun 2026.
Riset ini membuktikan bahwa Tiongkok masih menjadi pemimpin garis depan dalam pengembangan perangkat keras kuantum. Dengan kemampuan untuk mengelola lingkungan kuantum yang kompleks, Chuang-tzu 2.0 membawa manusia selangkah lebih dekat menuju era di mana komputer kuantum dapat digunakan untuk simulasi obat-obatan baru, optimasi logistik global, hingga sistem keamanan siber yang tak tertembus.













