Tarshadigital – Mahasiswa dari Belanda berhasil menciptakan sebuah mobil listrik kota yang menggunakan sistem modular inovatif, memungkinkan kendaraan ini untuk diperbaiki dengan mudah di rumah menggunakan alat sederhana. Mobil bernama ARIA ini dirancang oleh tim mahasiswa dari Eindhoven University of Technology bersama kolega dari universitas Fontys dan Summa.
Tujuan dari ARIA adalah menjawab tantangan makin sulitnya servis kendaraan listrik modern yang biasanya membutuhkan peralatan khusus dan komponen mahal. Dengan konsep modular, setiap bagian bisa dilepas dan diganti tanpa harus membongkar seluruh sistem yang rumit.
Konsep Modularitas yang Memudahkan Perbaikan
Ciri khas ARIA adalah penggunaan enam modul baterai kecil yang masing-masing beratnya sekitar 12 kilogram, bukan satu paket baterai besar seperti mobil listrik konvensional. Modul-modul baterai ini dapat dilepas dengan tangan tanpa memerlukan alat khusus, menyerupai proses mengganti baterai pada remote control. Total kapasitas baterai ARIA mencapai 12,96 kWh yang cukup untuk kebutuhan kendaraan di area perkotaan.
Selain baterai, seluruh komponen mobil seperti panel bodi dan elektronik interior dibuat modular dan bisa diganti secara individual. Misalnya jika panel pintu penyok atau sensor rusak, pemilik hanya perlu melepas modul terkait dan memperbaikinya tanpa harus mengganti seluruh bagian.
Untuk memastikan siapa saja bisa melakukan perbaikan, tim mahasiswa menyediakan panduan perbaikan lengkap, kotak alat bawaan, serta aplikasi yang memberikan diagnosa masalah, tips perawatan, dan panduan langkah demi langkah.
Menantang Industri Otomotif dengan Filosofi “Right to Repair”
Taco Olmer, manajer tim ARIA, mengungkapkan bahwa proyek ini sekaligus menjadi pesan kepada pembuat kebijakan, khususnya dalam konteks regulasi EU tentang “Right to Repair” yang mulai berlaku pada 2024. Regulasi ini bertujuan memudahkan dan menurunkan biaya perbaikan produk setelah masa garansi, terutama untuk peralatan rumah tangga dan elektronik konsumen.
Namun, menurut Olmer, peraturan ini belum sepenuhnya mengakomodasi kendaraan listrik. Saat ini, mobil listrik masih sulit diperbaiki secara mandiri karena baterai sering tertanam dalam rangka chassis dan suku cadang tidak distandarisasi, sehingga sukar diperoleh oleh bengkel independen.
“ARIA ingin menunjukkan bahwa pendekatan berbasis modular dapat membuat kendaraan listrik menjadi lebih ramah perawatan, membantu mengurangi sampah dan memperpanjang umur pakai kendaraan,” ujar Olmer dalam keterangan resmi dari kampus mereka.
Dampak Positif bagi Lingkungan dan Konsumen
Permasalahan servis kendaraan listrik semakin mendesak karena jumlah teknisi dengan keahlian khusus baterai dan sistem penggerak listrik masih terbatas di Eropa. Akibatnya, waktu dan biaya perbaikan kendaraan listrik semakin tinggi. Banyak mobil listrik yang akhirnya dibuang lebih awal, padahal bisa diperbaiki.
Dengan filosofi modular ARIA, diharapkan pemilik kendaraan memiliki lebih banyak kendali atas perawatannya, sehingga kendaraan bisa awet lebih lama dan mengurangi limbah elektronik. Pendekatan ini juga mendukung tujuan keberlanjutan dengan cara memperpanjang siklus hidup kendaraan dan meminimalkan kebutuhan penggantian suku cadang mahal.
Kesimpulan
ARIA bukan hanya inovasi mahasiswa untuk mobil listrik, tetapi juga sebuah ajakan bagi industri otomotif dan pembuat kebijakan supaya memperhatikan aspek kemudahan perbaikan dalam desain kendaraan listrik masa depan. Filosofi “Right to Repair” yang selama ini lebih banyak berlaku di sektor lain harus juga diterapkan pada kendaraan listrik agar konsumen mendapatkan kebebasan dan efisiensi.













