Para astronom dibuat terkejut setelah mendeteksi gas nikel yang keluar dari komet 3I/ATLAS, sebuah objek antar bintang yang melintas memasuki tata surya kita. Temuan ini diabadikan ketika komet masih berada jauh dari Matahari, wilayah yang amat dingin dan seharusnya mustahil untuk melepaskan unsur logam.
Tim peneliti memanfaatkan Very Large Telescope (VLT) di Chile untuk menangkap sinyal metal tersebut lebih awal daripada pengamatan interstellar comet mana pun. Kejutan lain datang dari Teleskop Webb NASA, yang menemukan bahwa komet ini memiliki kandungan CO₂ delapan kali lebih banyak daripada air, komposisi yang tidak biasa pada jarak sejauh itu dari Matahari.
Temuan ganda ini memunculkan pertanyaan besar: bagaimana nikel bisa lepas di lingkungan yang sangat dingin?
Nikel di Komet: Dari Mana Asalnya?
Penelitian dipimpin oleh Rohan Rahatgaonkar dari PUCC, yang meneliti kimia komet dan benda antar bintang. Biasanya, atom nikel terkunci rapat dalam mineral keras dan hanya bisa menguap di suhu tinggi. Namun kenyataannya, nikel justru muncul pada jarak empat kali lebih jauh dari Matahari dibanding Bumi.
Hal ini menandakan adanya mekanisme “lepasnya nikel” dengan cara yang jauh lebih lembut, misalnya:
- Fotodisosiasi, pemecahan molekul akibat cahaya
- Proses kimia bersuhu rendah pada permukaan debu
- Senyawa logam seperti metal karbonil yang mudah pecah jika terkena cahaya
- Photon-stimulated desorption, UV yang menendang atom dari permukaan butiran es
Temuan mencolok lainnya: saat nikel meningkat, besi tidak terdeteksi sama sekali. Ini mengindikasikan bahwa pembawa nikel jauh lebih rapuh dibanding pembawa unsur besi.
Apa yang Dilihat Teleskop?
Pengamatan pertama menemukan jejak nikel pada akhir Juli. Beberapa minggu kemudian, komet mulai memperlihatkan cyanogen (CN), tanda aktivitas khas komet. Saat 3I/ATLAS mendekati Matahari, produksi nikel meningkat drastis.
Sementara itu, teleskop Webb mengungkap bahwa komet ini memiliki rasio CO₂ : H₂O sebesar 8:1, angka yang sangat tidak lazim dan memberi petunjuk tentang lingkungan tempat komet ini terbentuk—kemungkinan wilayah dingin di mana es CO₂ mudah membeku.
Komet ini mencapai titik terdekatnya ke Matahari pada jarak 130 juta mil, namun tetap aman jauh dari Bumi.
Kimia Langka dan Petunjuk Asal Usul Komet Antar Bintang
Ketiadaan besi dan melimpahnya nikel memperkuat dugaan bahwa proses pelepasan logam berlangsung pada suhu rendah, bukan akibat penguapan panas. Ini konsisten dengan model bahwa 3I/ATLAS membawa jejak unik dari sistem bintang tempat ia berasal.
Temuan ini juga serupa dengan komet antar bintang sebelumnya, 2I/Borisov, sehingga membuka kemungkinan bahwa mekanisme pelepasan logam bersuhu rendah merupakan fenomena umum.
Mengapa Temuan Ini Penting?
Komet antar bintang adalah kapsul waktu yang membawa material asli dari sistem bintang lain. Melihat nikel di lingkungan sangat dingin memberikan wawasan baru tentang:
- Proses kimia suhu rendah
- Jenis molekul rapuh yang membawa logam
- Kondisi lingkungan pembentuk komet di luar tata surya
- Evolusi logam dan gas dalam pembentukan planet
Temuan ini menantang asumsi lama dalam kimia komet dan memberi ilmuwan target baru untuk penelitian lanjutan.













