Tarshadigital.com – Eksoskeleton bawah air pertama di dunia akhirnya berhasil dikembangkan oleh peneliti Tiongkok, menandai terobosan besar dalam teknologi robotik yang dirancang khusus untuk aktivitas penyelaman. Perangkat ini bukan sekadar penemuan baru, tetapi menjadi solusi potensial untuk mengurangi beban fisik penyelam sekaligus membuat pergerakan bawah air jauh lebih efisien. Inovasi ini menggabungkan biomekanika, teknologi sensor, dan rekayasa robotik sehingga mampu memberikan dorongan tambahan pada lutut penyelam saat melakukan gerakan flutter kick—gerakan utama yang digunakan saat berenang dengan sirip.
Selama ini, aktivitas menyelam dikenal sebagai kegiatan yang membutuhkan energi besar. Berbeda dengan berjalan di darat, bergerak di bawah air membuat manusia harus melawan tekanan dan resistensi air yang jauh lebih kuat. Kondisi ini membuat penyelam cepat kelelahan, menghabiskan udara lebih banyak, dan kehilangan efisiensi saat melakukan tugas-tugas yang membutuhkan durasi lama seperti penelitian kelautan atau konstruksi bawah laut. Masalah ini telah lama menjadi tantangan dunia penyelaman, termasuk bagi militer, ilmuwan, maupun penyelam profesional.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim peneliti dari Universitas Peking yang dipimpin oleh Profesor Wang Qining merancang sebuah eksoskeleton lutut bawah air berbasis kabel. Perangkat ini bekerja secara real-time dengan memberikan torsi tambahan pada lutut ketika penyelam melakukan tendangan. Sistem ini dilengkapi sensor gerak canggih dan kontrol berbasis gaya, sehingga mampu menyesuaikan gerakan bantuan sesuai pola pergerakan alami penyelam. Artinya, penyelam tidak perlu mengubah cara berenangnya; eksoskeleton akan mengikuti tubuh mereka, bukan sebaliknya.
Pengujian dilakukan terhadap enam penyelam berpengalaman, dan hasilnya menunjukkan peningkatan efisiensi yang signifikan. Ketika eksoskeleton digunakan, konsumsi udara penyelam menurun hingga 22,7 persen. Selain itu, aktivitas otot paha depan (quadriceps) berkurang 20,9 persen, sementara otot betis berkurang 20,6 persen. Penurunan ketegangan otot ini menunjukkan bahwa perangkat ini benar-benar mampu mengurangi beban fisik penyelam dan meningkatkan kenyamanan selama di kedalaman air.
Hal yang paling mengejutkan adalah bagaimana tubuh penyelam mampu beradaptasi dengan cepat terhadap bantuan mekanis ini. Para penyelam tetap menunjukkan pola gerakan alami tanpa gangguan atau perubahan signifikan. Efeknya, mereka bisa bergerak lebih cepat, lebih jauh, dan lebih efisien tanpa menghabiskan terlalu banyak energi. Kondisi ini jelas membuka peluang besar bagi banyak sektor yang bergantung pada kemampuan manusia bekerja di bawah air.
Jika digunakan secara luas, eksoskeleton bawah air ini dapat meningkatkan performa penyelam profesional, baik untuk riset kelautan, survei bawah laut, hingga operasi teknis rumit seperti perbaikan struktur bawah laut. Selain itu, perangkat ini juga bisa menjadi alat penting dalam pelatihan penyelam, memberikan pemahaman lebih dalam tentang biomekanika manusia saat berada di lingkungan akuatik.

Inovasi ini juga melanjutkan upaya pengembangan eksoskeleton akuatik yang sebelumnya hanya sebatas konsep. Beberapa penelitian terdahulu mencoba menciptakan rangka robotik terinspirasi hewan laut seperti lumba-lumba, penyu, atau penguin. Namun, teknologi tersebut belum berhasil diimplementasikan secara nyata untuk aktivitas penyelaman manusia. Eksoskeleton terbaru dari China ini menjadi perangkat pertama yang benar-benar berfungsi di dunia nyata.
Penelitian lengkap mengenai perangkat ini telah diterbitkan dalam jurnal IEEE Transactions on Robotics pada 14 Oktober 2025, menandai tonggak penting dalam dunia robotik wearable dan teknologi bantuan untuk penyelam.













