Tarshadigital.com – HONG KONG – Di tengah masifnya adopsi kendaraan listrik di tahun 2026, sebuah lompatan teknologi baru saja lahir dari laboratorium Hong Kong University of Science and Technology (HKUST). Tim peneliti berhasil mengembangkan baterai kalsium-ion yang mampu bertahan hingga 1.000 siklus pengisian, sebuah pencapaian yang diprediksi akan mengubah peta industri penyimpanan energi global.
Baterai kalsium-ion (CIB) telah lama dipandang sebagai kandidat terkuat untuk menggantikan lithium-ion karena ketersediaan kalsium yang melimpah dan harga yang jauh lebih terjangkau. Namun, selama bertahun-tahun, teknologi ini terkendala oleh pergerakan ion yang lambat dan stabilitas siklus yang buruk. Hingga Februari 2026 ini, tim HKUST yang berkolaborasi dengan Shanghai Jiao Tong University akhirnya menemukan solusi teknisnya.
Mengatasi Hambatan Transportasi Ion
Tim yang dipimpin oleh Prof. Yoonseob Kim merancang sistem menggunakan elektrolit quasi-solid-state berbasis covalent organic frameworks (COF) yang kaya akan karbonil. Material inovatif ini menciptakan saluran teratur yang memungkinkan ion kalsium (Ca2+) bergerak cepat melalui struktur baterai.
Berdasarkan data penelitian terbaru, elektrolit ini mencapai konduktivitas ionik sebesar 0,46 mS cm–1 pada suhu ruangan. Keunggulan ini memungkinkan ion kalsium bergerak lebih efisien dibandingkan desain sebelumnya yang sering mengalami degradasi cepat.
Performa Unggul: 1.000 Siklus dan Kapasitas Stabil
Dalam pengujian sel penuh, baterai kalsium-ion ini menunjukkan angka yang sangat kompetitif. Sistem tersebut memberikan kapasitas spesifik reversibel sebesar 155,9 mAh g–1. Yang paling impresif adalah daya tahannya: baterai mampu mempertahankan lebih dari 74,6 persen kapasitasnya setelah melewati 1.000 siklus pengisian dan pengosongan.
Angka ini menunjukkan bahwa teknologi kalsium-ion bukan lagi sekadar eksperimen laboratorium, melainkan sudah mendekati ambang batas penggunaan praktis untuk kebutuhan komersial, seperti baterai kendaraan listrik (EV) kelas menengah dan sistem penyimpanan energi skala besar (grid storage).
Alternatif Berkelanjutan di Tahun 2026
Seiring dengan keterbatasan sumber daya lithium dunia yang semakin terasa di tahun 2026, penemuan ini memberikan harapan baru bagi masa depan energi hijau. Prof. Yoonseob Kim, Associate Professor di Departemen Teknik Kimia dan Biologi HKUST, menyatakan bahwa riset ini menyoroti potensi transformatif kalsium-ion sebagai mitra berkelanjutan bagi teknologi lithium.
“Dengan memanfaatkan sifat unik dari kerangka organik kovalen redoks, kami telah mengambil langkah signifikan menuju solusi penyimpanan energi berkinerja tinggi yang dapat memenuhi tuntutan masa depan yang lebih hijau,” ujar Prof. Kim dalam pernyataan resminya, Sabtu (14/2/2026).
Keamanan Lebih Terjamin
Selain faktor biaya, penggunaan elektrolit quasi-solid-state menawarkan keunggulan keamanan yang jauh di atas sistem cair tradisional. Teknologi ini meminimalisir risiko kebocoran dan meningkatkan stabilitas mekanis, yang merupakan faktor krusial bagi keselamatan kendaraan listrik di masa depan.
Meskipun masih diperlukan tahap skalabilitas untuk produksi massal, hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Advanced Science ini menandai era baru di mana kalsium dapat menjadi tulang punggung revolusi baterai berikutnya, mengakhiri ketergantungan absolut industri pada logam langka.













