China baru saja bikin dunia penerbangan ternganga! Perusahaan negara Aero Engine Corporation of China (AECC) mengumumkan keberhasilan uji terbang perdana Mesin Jet Mini 3D-Print – dan langsung sukses mencapai kecepatan Mach 0.75 (sekitar 920 km/jam) di ketinggian 6.000 meter (20.000 kaki)!
Ini bukan lagi tes di bangku laboratorium. Mesin ini sudah terbang sendirian selama 30 menit penuh menggerakkan drone target tanpa satu masalah pun. AECC menyebut mesin beroperasi “sangat stabil dan normal” sepanjang penerbangan.
Apa yang bikin mesin ini begitu revolusioner?
- 75%+ komponen penting (termasuk semua bagian berputar) dicetak pakai printer 3D
- Desain menggunakan Topology Optimization – teknologi matematika canggih yang menghitung bentuk paling efisien sehingga material bisa dipakai seminimal mungkin tanpa mengorbankan kekuatan
- Hasilnya: jumlah part jauh lebih sedikit, bobot total turun drastis, perawatan lebih mudah, dan biaya produksi bisa jauh lebih murah!
Bayangkan: bagian-bagian rumit berbentuk jaring laba-laba yang mustahil dibuat dengan cara cor atau tempa tradisional, kini langsung “dilahirkan” dari printer 3D lapis demi lapis.
Sebelumnya di bulan Juli 2025, mesin yang sama baru diuji “numpang” di pesawat lain sampai ketinggian 4.000 meter. Kini ia sudah terbang sendiri – langkah raksasa menuju aplikasi nyata di drone militer, pesawat tanpa awak, hingga kemungkinan roket dan pesawat tempur masa depan.
Dampaknya buat Indonesia dan dunia?
- Teknologi ini bakal mempercepat dan mempermurah produksi mesin pesawat
- Drone tempur & intai jadi lebih murah, lebih lincah, dan sulit dideteksi
- Indonesia yang sedang kembangkan drone combat dan industri dirgantara bisa belajar banyak dari terobosan ini
AECC menyatakan hasil uji ini jadi fondasi kuat untuk tes berikutnya yang akan mengejar ketinggian lebih tinggi dan kecepatan supersonik.
China sekali lagi membuktikan: masa depan mesin jet sudah tidak lagi ditempa besi, tapi dicetak langsung dari mimpi dan printer 3D!













