Tarshadigital.com – Jalan Panjang Indonesia Menuju Raksasa AI 2045: Mengapa Banyak Perusahaan Masih Terjebak di Tahap Uji Coba? Pertanyaan besar ini menjadi titik balik penting bagi ekosistem digital tanah air yang kini telah memasuki kuartal pertama tahun 2026. Ambisi besar untuk mentransformasi nusantara menjadi kekuatan utama kecerdasan buatan dunia pada satu abad kemerdekaan nanti memang telah dipetakan dengan apik melalui Peta Jalan Nasional AI dan visi Making Indonesia 4.0. Namun, memasuki pertengahan dekade ini, realitas di lapangan menunjukkan adanya jurang pemisah yang signifikan antara ekspektasi tinggi dengan eksekusi nyata di level korporasi.
Laporan terbaru dari Cisco AI Readiness Index di awal tahun 2026 mengungkapkan angka yang cukup mengejutkan, di mana hanya sekitar 19 persen organisasi di Indonesia yang benar-benar siap mengadopsi AI secara menyeluruh ke dalam inti bisnis mereka. Sisanya, sebagian besar perusahaan masih terjebak dalam fenomena yang disebut pilot stage trap atau jebakan tahap percontohan. Mereka memiliki banyak proyek percobaan, namun kesulitan untuk melakukan skalabilitas atau membawa teknologi tersebut memberikan dampak finansial yang terukur pada laporan laba rugi perusahaan.
Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi Michael L. Pireca, Chief Financial Officer dari Rimini Street. Dalam pandangannya, tantangan utama yang dihadapi perusahaan-perusahaan di Indonesia bukan sekadar masalah teknis, melainkan berakar pada kesalahpahaman fundamental mengenai peran teknologi itu sendiri. Di tahun 2026 ini, euforia terhadap Generative AI dan Agentic AI memang sangat tinggi, namun banyak organisasi yang memutuskan untuk mengadopsi alat-alat canggih ini hanya karena dorongan tren atau rasa takut tertinggal (FOMO), tanpa memiliki strategi bisnis yang solid.
Michael menjelaskan bahwa sering kali perusahaan terjebak di tahap percontohan karena sebuah demonstrasi teknologi terlihat sangat impresif di atas meja presentasi. Namun, ketika solusi tersebut diimplementasikan ke dalam alur kerja yang kompleks dan bersentuhan dengan data riil, hasilnya sering kali tidak sesuai dengan janji awal atau gagal memberikan nilai tambah yang nyata bagi bisnis. Hal inilah yang membuat para pimpinan keuangan atau CFO mulai skeptis untuk memberikan pendanaan lebih lanjut, sehingga proyek AI tersebut berhenti di tengah jalan.
Fokus pada Kebutuhan Bisnis di Atas Tren
Untuk memecah kebuntuan ini, Michael menekankan perlunya perubahan paradigma dari tool-centric menjadi business-centric. Memasuki tahun 2026, perusahaan tidak bisa lagi sekadar membeli perangkat lunak AI dan berharap keajaiban terjadi. Evaluasi mendalam terhadap proses bisnis secara menyeluruh adalah harga mati. Perusahaan perlu mengidentifikasi bagian mana dari operasional mereka yang masih sangat bergantung pada komponen manual dan memiliki tingkat kesalahan tinggi. Di situlah AI harus masuk sebagai solusi otomasi.
Pendekatan yang disarankan Michael adalah mendahului kebutuhan bisnis di atas ketersediaan alat. Dengan mengidentifikasi titik nyeri atau pain points terbesar dalam operasional harian, perusahaan dapat menyusun prioritas investasi yang lebih realistis. Fokus pada penyelesaian masalah nyata akan memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan untuk inovasi AI dapat memberikan dampak yang terukur, baik itu dalam bentuk efisiensi waktu, pengurangan biaya operasional, maupun peningkatan kualitas layanan pelanggan.
Strategi Pendanaan Inovatif melalui Penghematan
Tantangan klasik lainnya yang masih menghantui transformasi digital di Indonesia pada 2026 adalah keterbatasan anggaran IT. Banyak perusahaan merasa harus memilih antara menjaga stabilitas sistem lama yang krusial atau berinvestasi pada teknologi masa depan yang mahal. Menjawab tantangan ini, Rimini Street memperkenalkan model strategi pendapatan dari penghematan. Logika di balik model ini adalah optimalisasi infrastruktur yang sudah ada untuk mendanai masa depan.
Alih-alih melakukan migrasi paksa ke sistem baru yang memakan biaya besar dan berisiko tinggi, perusahaan didorong untuk mengoptimalkan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) yang sudah berjalan. Michael menegaskan bahwa perusahaan dapat mendanai inovasi AI tanpa harus meningkatkan total pengeluaran IT. Caranya adalah dengan mengalihkan beban biaya dukungan vendor perangkat lunak yang mahal ke pihak ketiga yang lebih efisien. Dana hasil penghematan inilah yang kemudian dijadikan modal untuk mengeksekusi proyek-proyek AI yang lebih strategis.
Model ini juga menjawab kekhawatiran mengenai disrupsi tenaga kerja. Michael menegaskan bahwa strategi efisiensi ini ditujukan pada pengeluaran vendor, bukan pada pengurangan jumlah karyawan. Di era 2026, peran manusia justru menjadi semakin krusial sebagai pengawas dan pemberi konteks pada sistem AI. Dengan sistem yang lebih stabil dan efisien, karyawan yang sebelumnya terjebak dalam tugas-tugas administratif rutin dapat dialokasikan kembali untuk pekerjaan yang lebih kreatif dan strategis.
Menuju Kedaulatan AI 2045
Jalan panjang Indonesia menuju raksasa AI 2045 memang penuh tantangan, namun peluangnya tetap terbuka lebar. Pemerintah sendiri di awal tahun 2026 ini tengah mematangkan regulasi nasional melalui Peraturan Presiden (Perpres) tentang Etika dan Tata Kelola AI. Regulasi ini diharapkan dapat memberikan kepastian hukum dan rasa aman bagi perusahaan untuk melangkah keluar dari tahap uji coba menuju implementasi skala besar.
Keberhasilan transformasi ini pada akhirnya akan bergantung pada kemampuan para pemimpin bisnis dalam mengombinasikan kesiapan operasional, strategi pendanaan yang cerdas, dan fokus pada nilai bisnis yang nyata. Dengan melepaskan diri dari sekadar mengikuti tren dan beralih ke inovasi yang berorientasi pada hasil, visi Indonesia sebagai kekuatan ekonomi berbasis AI pada 2045 bukan lagi sekadar impian, melainkan sebuah realitas yang sedang dibangun fondasinya mulai hari ini.













